Kisah Ajaib

Untaian Kisah Para Wali Allah.
Imam As-Syafi'i radhiallahu-anhu bercerita:
Sekali peristiwa, ketika saya berada di Masjidil-haram, saya lihat seorang yang dulunya beragama nasrani sedang bertawaf di Ka'bah, Usquf namanya. Saya lalu menghampirinya seraya berkata kepadanya:
'Mengapa engkau meninggalkan agamamu?'
Dia menjawab: 'Aku telah menemukan agama yang lebih baik dari agama nenek moyangku.'
'Bagaimana demikian? Tanyaku pula.
'Kau mahu tahu ceritanya, ya?' Tanyanya kepadaku.


'Yalah jika boleh, ' jawabku pula.
'Aku telah mengalami suatu peristiwa yang benar-benar aneh, yang tak mungkin aku lupakan selama hidupku,' dia lalu berdiam, barangkali dia sedang mengingat-ingatkan peristiwa itu. Aku pula tidak sabar, lalu bertanya:
'Peristiwa aneh? Apakah maksudmu?! ' saya bertanya kepadanya.
Dia pun mula bercerita: ' Saat aku bepergian dengan menumpang sebuah kapal, dan ketika sedang di tengah - tengah lautan yang luas, tiba-tiba datang angin ribut yg sangat kencang, gelombangnya menggunung dan bergelora, lalu kapal itu dipukulnya sehingga tenggelamlah semua isinya.


Demikianlah halnya para penumpang itu, mereka tenggelam bersama-sama kapal itu. Sementara itu, aku pula menyelamatkan diri dengan berpegang kepada sekeping papan yang besar dari serpihan kapal itu. Ombak besar terus bergelora dan mencampakkanku ke pantai sebuah pulau di tengah - tengah lautan itu. Saya pun mendarat di pulau itu dan berjalan sambil menoleh kiri dan kanan mencari-cari kalau ada orang yg tinggal di pulau itu. Namun ternyata pulau itu sepi sekali, tiada berpenghuni, padahal tanahnya sangat subur,penuh dengan tumbuh-tumbuhan serta buah-buahan. Saya pun memakannya. Alangkah nikmatnya, dan sangat lazat rasa buah-buahannya. Manakalah sungai-sungainya mengalirkan air yg jernih, tawar pula rasanya. Saya memakan buah-buahan itu sepuas hatiku, dan meminum airnya sehingga kenyang rasa perutku.


Kemudian saya pun duduk di situ menunggu, moga-moga Allah akan mengirimkan pertolonganNya kepadaku.
Malam pun tiba, saya merasa takut dan bimbang, jika ada binatang-binatang buas, atau binatang-binatang yg melata yg mungkin akan berkeliaran di malam hari, maka saya memanjat sebuah pohon yg cukup tinggi. Saya duduk pada sebuah cabang yg kuat, lalu mengikatkan diriku padanya dan tidurlah saya. Di tengah malam, saya terkejut dari tidur kerana mendengar suara-suara tasbih dari arah lautan. Saya menjenguk kiri dan kanan mencari sumber suara-suara itu, dan mujur sekali ada cahaya bulan ketika itu, maka ternyata suara itu datang dari seekor binatang di permukaan laut itu yg membaca tasbih dengan riuh-rendahnya. Suaranya fasih dan jelas mengucapkan: "


Tiada Tuhan selain Allah yg maha mulia dan maha pengampun, Muhammad adalah utusan Allah dan menjadi Nabi yg terpilih. Abu Bakar temannya di gua. Umar adalah kunci penaklukan negeri dan kota.Usman pula orang yg terbunuh di dalam rumahnya. Ali adalah pedang Allah untuk menumpas kaum kafir, maka siapa yg membenci mereka nerakalah tempatnya"


Kalimat-kalimat yang di atas itu diulanginya beratus kali, sehingga masuk waktu fajar, dan ketika ia akan pergi ia mengucapkan pula:
"Tiada tuhan selain Allah yg maha memiliki lagi maha mulia. Muhammad adalah utusanNya yg membawa petunjuk yg benar. Abu Bakar adalah sahabatnya yg menyandang pangkat kebenaran. Umar adalah merupakan benteng dari besi yg kukuh. Usman adalah sahabatnya yg terbunuh dan yg menjadi syahid. Ali bin Abu Thalib adalah pemilik kekuatan yg keras, bagi pembenci mereka adalah laknat Allah tuhan yg maha mulia."


Bila binatang itu naik ke daratan ternyata ia memiliki mulut burung Na'amah (bangau berkepala panjang), tetapi kepalanya manusia, berkaki binatang dan berekor ikan. Melihat sifatnya yg sungguh pelik itu, saya ketakutan dan gementarlah seluruh tubuh saya. Binatang itu memandang ke atas dan melihatku, terpaut kepada cabang pohon itu, lalu dia menyuruhku turun.


"Turun!" Katanya dengan lisan yg fasih. Rupanya dia boleh berkata-kata seperti manusia. Saya takut dan enggan turun.
'Turun, dan jangan takut!' Perintahnya sekali lagi.
Saya pun turun dengan hati yg penuh takut dan bimbang. Badanku gementar. Lalu dia bertanya kepadaku:
'Wahai manusia! Apakah agamumu?!'
'Saya beragama nasrani,' jawabku dengan ketakutan.
'Agama yang tertolak dan sudah tak berguna lagi,' komentarnya.
'Kembalilah engkau kepada agama yang benar!' Dia menasihatiku.
'Agama yang benar itu apa?' Tanyaku berani.
'Agama Islam!' Jawabnya.
Dia kemudian menoleh kepadaku lagi, seraya berkata: 'Tahukah kau di mana kau berada sekarang?'
'Tidak,' jawabku.


'Kau berada di negeri Jin  mu'min, tiada yang selamat dari gangguan mereka, kecuali orang Islam saja,' dia memberitahuku.
Mendengar kata-katanya itu, saya agak terkejut juga, kerana saya bukan orang Islam. Mungkin dia akan mengapa-apakanku.
'Kalau begitu saya mahu memeluk Islam. Bagaimana cara masuk agama Islam itu?' Tanyaku kepadanya.
'Ucapkanlah kalimah ini:
"Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah."
Saya pun mengucapkannya dengan baik. Kemudian ia berkata lagi kepadaku:
'Sempurnakanlah keimananmu dengan rela kepada sahabat-sahabat Nabi yg empat, iaitu Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali r.a.'

Saya pun mengatakannya. Kemudian saya bertanya kepadanya pula:
'Siapakah yg mengajarmu demikian?!'
'Umat Muhammad yg pernah datang kepada Rasulullah s.a.w. dan mendengar beliau bersabda: Apabila datang hari kiamat, syurga pun didatangkan lalu berkata dengan lisan yg fasih:
'Ya Tuhan! Tuan telah berjanji untuk menguatkan tiang-tiang hamba!'
Allah berfirman:
Benar, Aku akan menguatkan tiang-tiangmu dengan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali!'
'Terima kasih,' kataku kepadanya.
'Adakah engkau ingin tinggal di sini, atau ingin pulang ke negerimu?!' Tanya lembaga itu pula.
'Ingin pulang ke negeriku,' jawabku kepadanya.
'Baiklah,' kata lembaga itu. Sebentar lagi ada kapal yang akan lewat di sini, tunggulah di sini sampai dia datang!' Katanya.

Aku hairan bagaimana lembaga atau binatang itu tahu, bila akan datang kapal di sini. Aku diam saja.
Kami pun berpamitan, dan sesudah itu, binatang itu pun masuk ke dalam laut, dan sebentar saja ia sudah hilang tidak kelihatan lagi.
Tinggal saya duduk termangu-mangu sendirian dengan hati penuh kehairanan.
Matahari sudah terbit menelan pagi yg udaranya segar bertiup dari sejak tadi. Saya masih duduk di situ menanti kapal yg dijanjikan. Tidak berapa lama lagi, tampaklah dari kejauhan imbas-imbas sebuah kapal yg menuju ke tempat saya menunggu itu. Saya cuba melambai-lambai agar diketahui mereka saya berada di situ. Saya lihat kapal itu berhenti, lalu mengirimkan orangnya datang dengan sebuah perahu kecil untuk menjemputku.


Saya menaiki perahu itu dengan penuh syukur ke hadrat Allah atas pertolonganNya kepadaku. Bila saya naik kapal besar itu, saya bertemu pula di sana dengan dua belas orang nasrani yang menumpang kapal itu. Saya lalu menceritakan kepada mereka peristiwa yg baru saja saya alami. Mendengar cerita itu, mereka pun memeluk agama Islam.
Sungguh binatang itu telah membawa berkat yg sangat besar kepada diriku, sebab keislamanku berlaku dengan perantaraannya.
Segala puji bagi Allah yg telah memberi petunjuk kepada sesiapa yg dikehendakiNya, dan dengan perantaraan yg ditentukanNya pula. Nah itulah sebabnya keislamanku!


Demikianlah cerita bekas nasrani itu kepada Imam As-Syafi'i mengenai keislamannya.
'Alhamdulillah, engkau telah menyaksikan sendiri akan kebenaran Islam, semoga engkau berbahagia!' Kata Imam As-Syafi'i kepada Usquf itu.


"Terima kasih kembali, dan semoga Allah berkenan mematikan diriku dengan tetap berpijak pada agamaNya yg mulia ini" jawab Usquf itu pula.


No comments:

Post a Comment

LAGENDA SUMPAHAN MAHSURI

LAGENDA SUMPAHAN MAHSURI Dikatakan, kisah Mahsuri yang sinonim dengan Pulau Langkawi, berlaku sekitar pemerintahan Sultan Abdullah Mukarram...